Aug 27 2010

lipsing !

embedded by Embedded Video

YouTube Direkt


Aug 25 2010

Sky Di Atas Lumpur

Permainan sky biasanya dilakukan di air atau salju. Namun di Pasuruan, Jawa Timur, permainan sky dilakukan diatas lumpur. Sky yang kerap disebut skylot ini selalu digelar warga di Selekok Pasuruan, Jawa Timur untuk menyambut tradisi tahunan ketupat lebaran.

Di tambak inilah ribuan warga Desa Legok, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur menggelar lomba skylot atau berseluncur diatas genangan lumpur. Lomba ini digelar untuk merayakan tradisi tahunan ketupat lebaran.

Untuk mengikuti lomba ini setiap peserta harus memiliki papan seluncur terbuat dari sepotong papan dengan ukuran 60 x 40 centimeter persegi. Dengan papan inilah, setiap peserta berseluncur secepat mungkin mencapai garis finish.

Bagi peserta pemula berseluncur diatas lumpur sangat sulit, karena kedalaman lumpur setinggi lutut orang dewasa. terlebih lagi dalam lomba ini jalur yang ditempuh tidak hanya lurus, tetapi juga berkelok-kelok. Bagi pemenang seekor kambing telah disiapkan sebagai hadiah.


Aug 25 2010

Menilai Orang Dari Kentutnya

Orang PINTER : Orang yang tahu kapan harus kentut dan kapan tidak boleh kentut

Orang SOPAN & JUJUR : Orang yang kalau kentut selalu bilang , Maaf saya mau kentut duluâ€

Orang SOK BERSIH : Orang yang kalau kentut celana dilepas dulu

Orang PENUH MISTERI : Orang yang kalau kentut tidak pernah diketahui oleh orang lain

Orang SOSIAL : Orang yang selalu kipas-kipas setiap selesai kentut

Orang SOMBONG : Orang yang suka mencium kentutnya sendiri.

Orang BANYAK AKALNYA : Orang yang kalau kentut sambil berteriak, agar tak terdengar kentutnya

Orang BODOH : Orang yang tidak bisa membedakan mana kentut sendiri dan mana kentut Orang lain

Orang PELIT : Orang yang suka ngempet / nahan kentutnya sendiri

Orang KORUP : Kentutnya bau sekali

Orang TIDAK JUJUR : Orang yang habis kentut terus meludah

Orang HEMAT : Orang yang bisa mengeluarkan kentutnya sesuai kebutuhan

Orang PERCAYA DIRI : Orang yang kalau kentut dikeras-kerasin

Orang LUGU : Orang yang kentut malah kaget

Orang GEMAR MENABUNG : Orang yang kalau kentut dimasukan ke kantong plastik lalu diiket erat2

Orang SADIS : Orang yang suka kentut di depan muka orang lain

TUKANG FITNAH : Orang yang kalau kentut langsung menuduh Orang lain

Orang APES / SIAL : Sudah bau kentut masih dituduh pula

Orang SERAKAH : Orang yang seneng ciumin kentutnya Orang lain

Orang GENDENG : Orang yang kalau kentut pantatnya dimasukan air, agar bunyi blekuthuk-blekuthuk

Orang BOROS : Orang yang kalau kentut dikeluarkan sekaligus sampai terikut ampas-ampasnya

Orang JOROK : Orang yang setiap kentut celananya ikut basah

Orang MALES : Orang yang kentut ga pernah tuntas

Orang MINDERAN / NGGAK PEDE : Orang yang suara kentutnya kecil dan terdengar tersendat-sendat

Orang PEMBUAL : Orang yang tidak bisa lagi dibedakan mana itu kentut atau omongannya

Orang KAYA : Orang yang banyak kentutnya daripada kerjanya

Orang SENGSARA : Orang yang seumur-umur hanya pingin kentut saja nggak pernah kesampaian

Orang NGGAK PUNYA KERJAAN : Yang suka membahas masalah kentut. Paling tidak yang baca in


Aug 25 2010

Hadang Ponsel China, Nokia Keluarkan Ponsel Dual SIM

Jakarta – Geliat ponsel China sudah mulai dirasa mengganggu oleh Nokia. Vendor ponsel raksasa asal Finlandia ini bahkan sampai mengikuti tren yang biasa dianut ponsel China, yakni mengusung ponsel dual SIM card.

Rencana Nokia yang tengah menyiapkan ponsel ‘GSM-GSM’ ini sejatinya sudah mulai terdengar kasak-kusuknya sejak Juni lalu. Hanya saja, realisasi rencana tersebut baru bisa kita lihat saat ini.

Nah, salah satu negara pertama yang mendapat kehormatan untuk menjajal kemampuan Nokia Dual SIM card ini adalah Nigeria. Di negara Afrika tersebut, Nokia melepas C1 untuk menahan gempuran ponsel China yang terbilang gesit di sana.

General Manager Nokia untuk kawasan Afrika Barat, Philip De LaVega mengatakan bahwa C1 merupakan ponsel yang cukup kompetitif dan dapat dioperasikan dengan mudah. Pengguna tinggal menekan satu tombol untuk berganti akses kartu.

Nokia C1 juga dikatakan memiliki daya tahan baterai yang lama, yakni bisa bertahan hingga enam minggu dalam keadaan stand-by. Tak ayal, daya tahan ini dikatakan sebagai yang terlama di jajaran ponsel Nokia lainnya.

Tidak disebutkan berapa banderol harga Nokia C1. Hanya saja, C1 dikatakan lebih murah dari seri ponsel dual SIM Nokia lainnya — C2 — yang dihargai USD 39 atau sekitar Rp 350 ribu dan digadang-gadang akan dilepas ke pasar pada kuartal empat 2010.

detik i net


Aug 25 2010

Membangun Kota dari Tusuk Gigi

Pernah pakai tusuk gigi? Kalau buat kilik-kilik habis makan sudah biasa, tapi kalau digunakan untuk membuat model-model seperti perkotaan tentunya sungguh luar biasa. Dua seniman berikut ini membuktikannya.

Kota Tusuk Gigi dari Stan Munro

Stan Muro, 38 tahun, seorang pembawa acara tv, menghabiskan waktu 6 tahun terakhirnya dengan membangun beberapa bangunan landmark-landmark dunia dari tusuk gigi !

Stan membutuhkan waktu antara sehari hingga 6 bulan untuk merekatkan tusuk-tusuk gigi itu menjadi model dari struktur-struktur terkenal di dunia pada skala 1:164.

Untuk membangun Kota Tusuk Gigi ini Stan Muro telah menggunakan lebih dari 6 juta tusuk gigi dan 172 liter lem, tetapi menurutnya itu belum selesai. Hasil karyanya saat ini dipertunjukkan di Museum of Science and Technology, di Syracuse, New York.

Model Kota San Fransisco dari Scott Weaver

Kota San Fransisco sering dijadikan objek seni bagi para seniman, tapi belum pernah yang seperti ini. Scott Weaver selalu memimpikan akan membangun model dari tusuk gigi terbesar di dunia dan itu dimulainya sejak 34 tahun yang lalu !

Saat ini mimpinya belum sepenuhnya terwujud, tapi yang sudah dibangunnya merupakan salah satu model dari tusuk gigi yang paling mengagumkan yang pernah dibuat di dunia.

“Rolling through the Bay” memiliki tinggi 9 kaki, panjang 7 kaki dan lebar 2 kaki dari model yang terbuat dari tusuk gigi yang terdapat 4 bola ping-pong rolling-track dan beberapa jalur masuk. Track inilah yang membuatnya sangat unik. Begitulah Mr. Weaver memulai petualangannya di dunia tusuk gigi dengan membangun model-model abstrak dan menggelindingkan bola-bola pingpong padanya.

Meski “Rolling through the Bay” memang menampilkan beberapa ikon kota San Fransisco seperti the Bay Bridge, Golden State Park, Fisherman’s Wharf, Alamo Square atau the Cable Car tour, Scott Weaver mengatakan ini hanya dilihat dari sudut pandang dirinya mengenai kota San fransisco. Dan tidak seperti model-model pada umumnya, dia juga menggunakan bola-bola ping-pong.

Model dari tusuk gigi dari kota San Fransisco ini mebutuhkan waktu lebih dari 3000 jam kerja untuk menyelesaikannya dan menghabiskan lebih dari 1 juta tusuk gigi. Untungnya satu pak tusuk gigi hanya berharga 99 sent, jadi tidak terlalu mahal. Ripley’s Believe It or Not pernah menawar karyanya ini sebesar $40.000 dollar tapi belum mau menerimanya dan terus melakukan pekerjaannya.

aneh tapi nyata


Aug 25 2010

Rahasia Ngeblog Dapat Duit di Blogspot

Ngeblog dapat duit ? Mungkin Anda sudah tahu atau malah tidak tahu sama sekali. Artikel ini membahas bagaimana cara-cara yang paling praktis dan efektif menghasilkan uang dari blog yang Anda kelola. Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman saya mengelola blog dan terbukti menghasilkan uang buat saya. Jangan buang kesempatan, apalagi pengguna internet makin meluas di Indonesia, jadikan mereka “klien-klien” Anda yang menghasilkan uang untuk Anda. Jika Anda tahu caranya kenapa harus menunggu mereka yang nanti mendahului Anda.

Ngeblog Sebagai Bisnis Sambilan
Kalau Anda sudah lama mengenal internet tentu mengenal apa yang namanya blog. Bahkan mungkin ketika Anda mulai membaca artikel ini mungkin Anda sudah memiliki blog, satu, dua, tiga, atau bahkan untuk alasan tertentu ada orang yang bahkan punya puluhan blog. Hmm gimana ngelolanya, ya ? Saya sendiri sampai saat ini hanya serius mengelola tiga blog. Dua di blogspot (blogger.com) dan satunya lagi di Multiply (multiply.com). Yang di multiply sifatnya terbatas yaitu untuk komunitas kantor saya, teman-teman saya, maupun juga keluarga alias fully non-commercial. Untuk yang di blogspot, ehm, yang satu ini disamping untuk menyalurkan hobi menulis saya, tentu saja untuk mencari penghasilan tambahan – hehehe. Saya tiap bulannya menerima gaji dari profesi saya sebagai seorang engineer dengan pengalaman hampir 10 tahun. Tapi buat saya yang sudah berkeluarga dengan dua anak yang namanya gaji itu sudah ada posnya masing-masing. Sekolah anak, susunya, asuransi pendidikannya, tabungan pensiun, cicilan rumah, kendaraan, bayar kartu kredit, beli bensin, sekali-kali ngajak anak istri makan di luar, belum lagi kalo ada yang sakit dan harus ke dokter. Waks ! Kalopun nyisa paling dikit, seringnya tekor. Hehehe. Tapi untunglah, masih ada bonus dari kantor, THR, dan kadang-kadang dapet sambilan di luar. Tapi tetap saja rutinitas ini tidak membuat saya merasa aman dalam hal finansial. Makin hari kebutuhan makin banyak, anak makin besar, makin pintar (minta duit), sekolahnya makin mahal, dan harga-harga kebutuhan pokok yang kayaknya gak pernah gak naik. Tidak ada salahnya saya mulai memikirkan sumber penghasilan lain yang tentu saja tidak boleh mengganggu rutinitas mapan saya sehari-hari sebagai orang kantoran (setidaknya sampai hari ini).

Saya tidak menjanjikan Anda akan menjadi jutawan atau miliarder dari mengelola blog atau bisnis online lainnya, karena saya sendiri belum pernah membuktikannya – setidaknya sampai hari ini. Satu blog saya memang terbukti menghasilkan uang untuk saya, tapi belum cukup untuk dikatakan bahwa saya telah menjadi jutawan apalagi miliarder dari bisnis online di internet. Saya juga tidak akan membuat Anda meninggalkan pekerjaan Anda saat ini untuk sepenuhnya berbisnis online atau dengan membuat blog. Tidak! Tapi silahkan Anda googling dengan keyword-keyword seperti “internet millionaire” atau “make money with internet” atau lainnya yang mirip-mirip dengan itu. Anda akan menemukan kisah-kisah nyata para netter dan blogger yang menjadi jutawan atau bahkan miliarder dari blog-blog atau bisnis online lain yang dikelolanya. Banyak pula yang rela berprofesi sebagai full-time internet marketer sebagai sumber mata pencarian utamanya. Bukan tidak mungkin Anda atau saya akan menjadi salah satu dari mereka. Jika kita mau berusaha seperti mereka, tidak ada yang tidak mungkin bukan ? Tapi, sampai saat ini kerangka berpikir saya masih sebatas bahwa menulis blog ini sebagai usaha sampingan saja.

Uang Hanya Menghampiri Blog yang Ramai Pengunjung
Saya menulis artikel ini bukan untuk menggurui Anda atau merasa bahwa sayalah yang paling jago di dunia blogger Indonesia. Tidak sama sekali. Saya bukan siapa-siapa. Mungkin di jagad blogger Indonesia pun nama saya juga tidak dikenal. Saya hanya berbagi pengalaman bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan dari misalnya mengelola blog. Anda bisa menemukan cara bagaimana membuat blog dan bagaimana menghasilkan uang dari blog Anda dengan cara bertanya pada om Google. Memang informasi itu berserakan dan sulit untuk blogger pemula memutuskan untuk mulai dari mana dan mana yang terbaik untuk dilakukan.

Seorang artis mungkin tidak perlu bersusah payah membuat blognya ramai dikunjungi orang. Atau tidak heran blog dari seorang politikus dikunjungi ribuan orang tiap harinya karena memang dia sering nongol di acara-acara TV. Tapi seperti juga saya, nama Anda tidak pernah masuk tabloid apalagi masuk TV. Anda harus tahu cara-cara bagaimana membuat blog Anda ramai dikunjungi orang. Sulit ? Tidak ! Banyak blogger mundur di tengah jalan karena putus asa melihat nasib blognya yang sepi pengunjung. Untuk blogger yang membuat blog hanya sebagai blog pribadi, komunitas, buku harian, tempat curhat, atau ajang mengekspresikan diri tidaklah menjadi soal. Tapi untuk saya dan Anda yang dari awal memang berniat membuat blog yang menghasilkan uang tentu saja sangat mengecewakan. Sekali lagi, pengunjung yang ramai adalah satu-satunya syarat agar blog Anda bisa menghasilkan uang.

Perbanyak Update Blog
Makin sering Anda mengupdate blog Anda, makin sering robot-robot mesin pencari seperti Google mencatat blog Anda. Ini syarat paling mutlak! Kalo Anda malas menulis jangan harap blog Anda akan tampil di halaman-halaman pertama hasil search Google atau di mesin pencari lainnya. Jika alasan Anda adalah sulit mendapatkan ide untuk menulis menurut saya itu salah besar. Anda tidak perlu menjadi wartawan dadakan untuk menulis artikel atau berpikir keras memeras otak untuk menulis artikel kecuali waktu Anda akan habis untuk itu dan justru pekerjaan utama Anda akan terbengkalai.

Internet Sumber Informasi
Internet adalah mega database raksasa dimana Anda bisa dapatkan informasi tentang apa saja. Saya pernah menulis suatu artikel yang tadinya terbayang di pikiran saja tidak. Contohnya soal pohon yang bisa berjalan. Dimana saya dapatkan artikel ini ? Di Wikipedia ! Yup, betul sekali, salah satu gudang informasi adalah di wikipedia. Menjiplak dong ? Tidak ! Bahkan kalaupun Anda cuma pake jurus copy-paste pun tidak akan ada yang protes. Kalau saya pake jurus aman. Saya biasanya akan baca satu artikel menarik di wikipedia atau dimana saja sampai selesai. Kadang-kadang saya harus membacanya dua-tiga kali sampai saya paham benar isinya. Lalu saya akan buat posting baru di blog saya dengan gaya bahasa saya sendiri berdasarkan yang saya pahami dari yang saya baca tadi. Untuk gambar-gambar atau video pendukungnya saya comot dengan tetap memberikan link sumbernya. Jadilah posting baru ! Apakah ini menjiplak ? Tidak ! Ini sama halnya dengan ketika Anda dulu menulis skripsi atau makalah dimana kemudian Anda mencantumkan referensi di akhir skripsi atau makalah Anda. Atau lihatlah buku-buku yang Anda miliki, biasanya di halaman akhirnya dicantumkan daftar sumber-sumber referensinya. Manfaatkan mesin pencari seperti Google untuk mencari bahan artikel yang Akan tulis.

Pilih Tema Blog yang Laku
Jika Anda sudah mulai rajin menulis blog, itu berita baik. Tapi kalau yang Anda tulis ternyata hanya segelintir orang yang tertarik tentunya juga percuma saja. Karena Anda ingin memperoleh penghasilan dari blog sekali lagi syaratnya blog Anda harus ramai pengunjungnya. Disamping rajin mengupdate Anda harus memilih tema yang laku dicari orang di internet. Berdasarkan pengalaman saya, inilah tema-tema yang paling dicari di internet:

1. Bisnis Internet
Tidak bisa dipungkiri banyak orang sekarang melirik internet sebagai sumber penghasilan baru. Hits pengunjung pada blog-blog yang berisikan bagaimana berbisnis di internet selalu tinggi. Tunggu apalagi, cari bahan-bahannya di om Google, tapi ingat, usahakan jangan menjiplak! Pakai trik saya di atas.

2. Tips dan Trik Blog
Makin hari blog makin populer seiring makin berkembang pesatnya penetrasi internet di masyarakat. Otomatis orang akan banyak mencari informasi bagaimana membuat blog dan mempercantik blognya. Ini juga bahannya bejibun ada di internet. Googling saja.

3. MP3 Gratisan
Sudah biasa disini orang cari yang gratisan termasuk lagu-lagu. Lagu-lagu mp3 banyak Anda temukan di situs-stus warehouse seperti rapidshare.com, 4shared.com, ziddu.com dan lainnya. Anda tinggalkan tautkan link download-nya saja di blog Anda dan tambahkan informasi dikit-dikit mengenai artisnya. Masalah hak cipta itu urusan Anda sama yang di Atas. Hehehe… Tapi sebenarnya justru dengan cara seperti inilah artis-artis itu tambah beken dan karena makin beken dan lagu-lagunya makin dikenal jadinya makin banyak tawaran manggung. Ya, nggak, sih?

4. Gadgets Terbaru
Sekarang jamannya gadget digital. Setiap hari banyak yang mencari tahu apa handphone keluaran terbaru Nokia atau Sony-Ericsson misalnya. Atau Ipod dan mp3 player lainnya, kamera digital, dvd player, dan gadget-gadget lainnya. Informasi gadget-gadget terbaru seperti ini juga sangat banyak di internet.

5. Blog Lowongan Kerja
Bukan rahasia lagi masih banyak orang yang belum bekerja. Dari yang cuma lulusan SMU sampai yang bertitel S3 saat ini masih mengadu nasib dengan melamar kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan. Tampilkan informasi lowongan-lowongan pekerjaan baru di blog Anda. Bahannya dari mana ? Banyak, satu contoh saja, beli koran Kompas hari Sabtu dan Minggu. Banyak sekali informasi lowongan pekerjaan di sana. Anda tinggal salin. Sebisa mungkin cantumkan sumbernya dan jangan sampai salah kutip!

6. Blog Pintar
Apa itu blog pintar? Contohnya adalah blog ini. Banyak informasi-informasi ringan dan bermanfaat di sini. Anda bisa temukan banyak artikel-artikel menarik tentang segala hal di dunia ini di wikipedia. Dari pohon yang bisa berjalan sampai skor pertandingan catur antara Gary Kasparov melawan Superkomputer IBM Deep-Blue lengkap dengan gambar-gambar pendukungnya.

Dan masih banyak lagi tema-tema spesifik yang bisa Anda tentukan sendiri. Yang perlu Anda ingat adalah pasar Anda adalah masyarakat Indonesia (kecuali Anda menulis blog dalam bahasa asing), jadi setidaknya berpikirlah kira-kira informasi apa yang sering dicari para netter Indonesia.

Nama (Judul) Blog Yang Tepat
Keyword pada URL adalah hal yang penting untuk search engine. Pastikan URL blog Anda berisikan keyword utamanya. Usahakan nama atau judul blog ini pendek dan mudah diingat. Jika nama blog Anda terpaksa harus panjang lebih baik pisahkan dengan karakter hypen (-) karena lebih mudah dibaca. Misalnya sebuah blog akan lebih mudah dibaca dengan nama blog-mesin-uang daripada blogmesinuang. Blog ini akan lebih mudah ditemukan orang di search engine dengan keyword “mesin uang” misalnya. Atau misalnya nama blog lowongan-kerja-terbaru akan lebih mudah dibaca orang ketimbanglowongankerjaterbaru. Coba Anda perhatikan tiga URL berikut ini:
– www.expertsexchange.com (website ini sekarang statusnya disabled)
– www.penisland.net (yang ini masih online, tapi di sini bukan website tempatnya parade -maaf- penis)
– www.powergenitalia.com (website yang menjual generator listrik di Italia ini juga tiba-tiba statusnya jadi under construction)
Hehehe. Jadi, jangan paksakan nama blog Anda yang panjang menjadi susah atau tidak enak dibaca atau malah salah dibaca. Salah-salah blog kita malah dikira blog pornografi. Jangan takut, karena search engine seperti Google bisa membedakan karakter hypen (-) dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari nama blog. (Catatan: tips ini ditujukan untuk Anda yang baru akan memulai membuat blog dan bukan untuk yang sudah lama membuat blog yang telah lama di-indexed oleh search engine, apalagi yang telah banyak memiliki backlinks. Karena jika Anda merubah nama Blog Anda sama saja Anda mulai dari nol lagi.)

Percantik Blog
Karena informasinya kurang tepat ada yang membuat blog seadanya, dengan penampilan default dan ditambah konten yang tidak jelas meski sering di-update. Blog seperti ini hanya akan dikunjungi oleh teman Anda, istri, saudara, tetangga atau paling banter temannya teman Anda, temannya istri, temannya saudara, temannya tetangga. Berapa jumlah mereka semua. Lima puluh, seratus, lima ratus, atau – kalau Anda ini ternyata orang paling gaul – seribu ? Seribu pengunjung yang itu-itu saja saja tidak akan cukup membuat blog Anda menghasilkan uang (kecuali recehan doang). Adapula yang membuat blog super canggih dengan plugin-plugin javascript di sana-sini, widget-widget yang canggih, animasi-animasi flash yang canggih tapi konten blognya sendiri hanya diupdate seminggu sekali, dua minggu sekali, atau bahkan sebulan sekali. Bahkan istri Anda pun akan kapok mengunjungi blog Anda karena miskin informasi dan loading time-nya yang berat! Berinteraksilah dengan pengunjung blog Anda. Sediakan fasilitas untuk komentar atau polling-polling menarik yang membuat pengunjung blog Anda seperti berada di rumah sendiri! Kesimpulannya, percantiklah tampilan blog Anda dengan secukupnya saja. Seperti cara dandan yang benar, tipis-tipis saja tapi kelihatan cantik elegan dan tidak menor!

Pasang Iklan PPC (Pay Per-Click)
Blog Anda sudah mulai dibanjiri pengunjung tapi percuma saja kalo Anda tidak menjual apa-apa di blog Anda! Kalo Anda punya produk sendiri itu awal yang sangat bagus. Misalnya kebetulan saya adalah sorang pekerja di bidang IT. Saya biasa bikin aplikasi atau software untuk pc dan juga internet, maka saya pasang banner yang menawarkan konsultasi di bidang itu. Hasilnya saya baru-baru ini mendapat satu order pembuatan aplikasi yang nilainya lumayan. Apa lagi ? Tidak ada ? Jangan takut ! Di luar sana banyak orang yang pengen produk-produknya diiklankan di blog Anda. Anda tinggal meluncur biro-biro iklan online yang menjadi jembatan penghubung antara mereka-mereka yang ingin memasarkan produknya dan kita-kita yang punya “space iklan”. Ada beberapa biro iklan online di Indonesia yang semua prinsipnya sama. Mereka menyediakan banyak pengiklan-pengiklan yang produknya siap dipajang di blog kita. Lalu bagaimana kita dibayar ? Mudah saja, biro iklan tersebut akan memberikan kita script-script khusus yang nantinya dipasang di blog kita. Script-script ini akan menampilkan iklan-iklan di blog kita. Setiap ada pengunjung yang mengklik iklan tersebut maka kita akan dibayar. Mudah kan ? Bagaimana cara menaruh script-script iklan itu di blog kita ? Silahkan googling dengan keyword misalnya “How to embedd html script in blogspot”. Gampang banget, kok. Cuma saran saya, jangan gunakan penyedia blog gratisan seperti wordpress.com yang melarang kita menaruh script di blog. Jika tetap ingin yang gratisan (kayak saya, hehehe) gunakanlah blogspot (blogger.com). Anda bebas menaruh scrip html atau javascript apa saja di layanan blog gratis ini. Lalu biro iklan Indonesia apa saja yang recommended dan gratis untuk kita jadikan partner ? Ini beberapa diantaranya:
1. Adsense-Camp
2. Kumpul-Blogger
3. Klik-Saya
4. ppc-indo
5. Google-Adsense
Program PPC dari Google ini sebenarnya adalah yang paling direkomendasikan karena bayarannya yang paling besar dibanding biro-biro iklan online di atas dan yang jelas reputasinya tidak diragukan lagi. Sayangnya Google tidak (belum) mengijinkan blog berbahasa Indonesia untuk memasang iklan-iklannya. Kecuali kalau blog Anda berbahasa Inggris maka program Google adsense ini wajib hukumnya. Tapi google masih mengijinkan blog berbahasa Indonesia untuk memasang iklannya tapi dalam mode “Google Search”. Perhatikan kotak search di blog ini. Jika Anda melakukan search maka Google akan menampilkan hasil searchnya sekaligus menyisipkan iklan-iklan yang berhubungan dengan keyword search-nya. Ada satu cara lagi yaitu melalui RSS feed di blog kita. Buat feed blog Anda di situs seperti feedburner.com atau dengan menggunakan feed default dari blogspot dan daftarkan di Google pada iklan mode feed. Setiap ada yang mengakses RSS feed kita, Google akan menyisipkan iklan-iklannya. Setiap kliknya Anda akan dibayar sejumlah uang dalam Dollar. Hmm, lumayan kan…

Segera meluncurlah kesana dan daftarlah sebagai publisher, ikuti panduan bagaimana membuat script-script iklannya, mudah dan gratis, kok.

Blog Pintar Indonesia


Aug 25 2010

Pengantar Ilmu Komunikasi

Pengantar Ilmu Komunikasi ini adalah tugas kuliah saya, karena jurusan saya komunikasi dan penyiaran.

Istilah komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.

Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.

Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.

Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi, sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi.

Menurut Frank E.X. Dance dalam bukunya Human Communication Theory terdapat 126 buah definisi tentang komunikasi yang diberikan oleh beberapa ahli dan dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja Pengantar Ilmu Komunikasi dijabarkan tujuh buah definisi yang dapat mewakili sudut pandang dan konteks pengertian komunikasi. Definisi-definisi tersebut adalahs ebagai berikut:

Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak).Hovland, Janis & Kelley:1953

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
Berelson dan Stainer, 1964

Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?)
Lasswell, 1960

Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
Gode, 1959

Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
Barnlund, 1964

Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan.
Ruesch, 1957

Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.
Weaver, 1949

Kita lihat dari beberapa definisi tersebut saling melengkapi. Definisi pertama menjelaskan penyampaian stimulus hanya dalam bentuk kata-kata dan pada definisi kedua penyampaian stimulus bisa berupa simbol-simbol tidak hanya kata-kata tetapi juga gambar, angka dan lain-lain sehingga yang disampaikan bisa lebih mewakili yaitu termasuk gagasan, emosi atau keahlian.

Definisi pertama dan kedua tidak bicara soal media atau salurannya, definisi ke tiga dari lasswell melengkapinya dengan komponen proses komunikasi secara lebih lengkap. Pengertian ke-empat dan seterusnya memahami komunikasi dari konteks yang berbeda menghasilkan pengertian komunikasi yang menyeluruh mewakili fungsi dan karakteristik komunikasi dalam kehidupan manusia.
Ke-tujuh definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa komunikasi mempunyai pengertian yang luas dan beragam. Masing-masing definisi mempunyai penekanannya dan konteks yang berbeda satu sama lainnya.

Definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan.

Setiap pelakuk komunikasi dengan demikian akan melakukan empat tindakan: membentuk, menyampaikan, menerima, dan mengolah pesan. Ke-empat tindakan tersebut lazimnya terjadi secara berurutan. Membentuk pesan artinya menciptakan sesuatu ide atau gagasan. Ini terjadi dalam benak kepala seseorang melalui proses kerja sistem syaraf. Pesan yang telah terbentuk ini kemudian disampaikan kepada orang lain. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bentuk dan mengirim pesan, seseorang akan menerima pesan yang disampaikan oleh orang lain. Pesan yang diterimanya ini kemudian akan diolah melalui sistem syaraf dan diinterpretasikan. Setelah diinterpretasikan, pesan tersebut dapat menimbulkan tanggapan atau reaksi dari orang tersebut. Apabila ini terjadi, maka si orang tersebut kembali akan membentuk dan menyampaikan pesan baru. Demikianlah ke –empat tindakan ini akan terus-menerus terjadi secara berulang-ulang.
Pesan adalah produk utama komunikasi. Pesan berupa lambang-lambang yang menjalankan ide/gagasan, sikap, perasaan, praktik atau tindakan. Bisa berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar, angka-angka, benda, gerak-gerik atau tingkah laku dan berbagai bentuk tanda-tanda lainnya. Komunikasi dapat terjadi dalam diri seseorang, antara dua orang, di antara beberapa orang atau banyak orang. Komunikasi mempunyai tujuan tertentu. Artinya komunikasi yang dilakukan sesuai dengan keinginan dan kepentingan para pelakunya.

blog progress


Aug 25 2010

Tentang Judul Itu… (Menyoal “Matinya” Ilmu Komunikasi)

Judul Buku : Matinya Ilmu Komunikasi
Penulis : St Tri Guntur Narwaya,
Tahun terbit : 2006.
Penerbit : Resist Book,Yogyakarta
Jumlah Halaman : 230 + xv.

Benarkah ilmu komunikasi telah mati? Pertanyaan sederhana ini akan mengantar kita pada diskusi panjang yang pasti tidak akan mudah menghasilkan satu kesimpulan akhir. Argumentasi banal dan eksperimentatif tidak cukup diajukan karena menyangkut “vonis” hidup-mati bagi eksistensi suatu ilmu, jika tidak mau dikatakan judgement tergesa atau bahkan sekadar kritik klise. Pertanyaan tentang masa depan ilmu komunikasi mengingatkan pada sebuah buku yang diterbitkan tahun 2006 karya St Tri Guntur Nurwaya berjudul ”Matinya Ilmu Komunikasi”.

Membaca buku karya Narwaya yang menggunkan kata “sihir” the death of… (matinya…) atau the end of… (berakhirnya…), mau tidak mau mengajak kita untuk membandingkan—paling tidak mengingat—buku-buku serupa yang lahir pada generasi awal seperti The End of History and the Last Man (1991) karya Francis Fukuyama atau The Death of Economics (1997) karya Paul Ormerod. Harus diakui, elaborasi kerangka teoretik dan data praksis buku-buku yang lahir pada generasi awal tersebut memang matang sehingga menjadi sumber rujukan ilmiah yang mumpuni, sekaligus secara industri laris di pasaran. Kesuksesan penjualannya mengilhami kelahiran buku-buku dengan instrumen judul serupa. Sayangnya, tak sedikit buku-buku yang lahir setelah kedua buku itu hanya menjadi epigon dengan pemikiran yang tidak tereksplorasi dengan baik.[2] Sekadar gambaran, pada generasi berikutnya, pakar PR sekelas Al Rise yang “hanya” menggunakan frasa The Fall of Advertising, The Rise of PR (2002) -belum sampai “maqom” the death of…- juga harus rela menghadapi gugatan paradigmatis serupa dari kalangan ilmuwan dan praktisi periklanan, meski fakta empiris berbicara, buku itu menjadi best seller dan tak sedikit yang mendukung argumentasinya.

Melihat kenyataan bahwa buku ”Matinya Ilmu Komunikasi” dikembangkan dari skripsi penulisnya, maka saya meyakini (dan berharap) penggunaan kata “matinya” pada sampul buku “Matinya Ilmu Komunikasi” hanyalah sebagai strategi marketing dalam konteks bisnis perbukuan guna menarik perhatian pembeli, tidak berpretensi untuk menyamai tesis “akhir sejarah” Fukuyama atau “kematian ilmu ekonomi”nya Ormerod (nama terakhir kerap disebut penulis dalam buku ini).

Sebelumnya, ada hal yang patut diapresiasi positif dari buku ini. Pertama, buku ini termasuk karya yang berani karena ditulis oleh seseorang yang kritis menggugat ilmu yang ditekuninya. Sebuah kondisi yang jarang ditemui karena kecenderungan yang ghalib berlaku, seseorang akan membela ilmu yang dipelajarinya, bahkan kadang dengan pembelaan yang membabi-buta. Kedua, ada gejala sangat positif ketika seorang pembelajar ilmu komunikasi pada level sarjana strata satu peduli dengan bangunan filsafat teoretik keilmuan yang kemudian ditelaah secara mendalam dalam skripsinya. Setidaknya ini membuktikan, tidak semua mahasiwa lebih tertarik meneliti dunia komunikasi dalam dimensi praktis-teknis (misalnya menyoroti aspek mikro media massa: news, views, advertising) dengan tujuan pragmatis: mempercepat kelulusan atau mengkaji sesuatu yang berpotensi menopang karirnya di industri komunikasi kelak setelah mereka lulus. Ketiga, nilai lebih berikutnya adalah sejarah penulisan buku ini yang konon lahir dari kegelisahan penulis terhadap anasir-anasir kemampanan. Ilmu komunikasi dinilai penulis merefleksikan kemapanan yang arogan. Ya, kemapanan sendiri seperti kata Kris Budiman (2003), mengukuhkan kekurang-ajaran karena selalu mengandung kepentingan bagi siapapun yang diuntungkannya.[3]

Namun, keberanian saja tidak cukup karena beban yang dipikul penulis dengan mengusung judul “matinya” tidaklah ringan. Terutama bagaimana penulis harus mendedah kronologi kematian ilmu komunikasi dalam rentang ruang dan waktu disertai pembuktian-pembuktian rasio yang memadai, sekaligus memberikan eksplanasi mendalam pada area atau lokus yang dijadikan topik buku (ilmu komunikasi).

Dengan membaca keseluruhan argumentasi penulis dan pemaparan bab demi bab dalam buku ini, justru terbersit sebuah kritik sederhana: judul Matinya Ilmu Komunikasi lebih sinkron seandainya diberi judul “Matinya Positivisme dalam Ilmu Komunikasi…..”—terlepas dari ranah ilmu komunikasi sendiri yang justru tidak banyak diulas—. Pun jika (sayangnya belum) materi tentang ilmu komunikasi dielaborasi lebih banyak dalam buku ini, tidak bisa begitu saja menafikan perkembangan kontemporer dunia komunikasi yang ada saat ini, baik sebagai kajian (art) maupun ilmu (science). Elaborasi ini sangat perlu mengingat di berbagai belahan dunia (yang merdeka mengembangkan paradigma keilmuan secara dinamis dan terbuka), ilmu komunikasi justru sedang mengalami perkembangan, terutama jika dilihat dari objek formal dan objek materialnya yang kian meluas dan variatif. Jadi rasanya kurang pas jika ilmu komunikasi saat ini dianggap mapan, apalagi stagnan pada pijakan paradigma positivisme.

Sebuah pertanyaan lain yang menggelitik kemudian muncul: Apa salahnya dengan positivisme sebagai paradigma? Tidak ada bantahan memang bahwa dalam sejarahnya, dosa terbesar positivisme adalah kontribusinya memacetkan ilmu sosial. Namun perlu disadari juga bahwa suatu teori atau perspektif hanya menangkap kebenaran atas fenomena secara parsial dengan terlebih dulu mengabaikan kebenaran lainnya. Littlejohn (2003) misalnya menegaskan, studi ilmiah (positivisme) dan studi humanistik (fenomenologis-kritis) tidaklah saling meniadakan, namun seharusnya saling melengkapi.

Jika kita mendudukkan paradigma dalam kerangka egalitarian dan tidak hegemonik, semua paradima memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apalagi jika ditelisik dari konteks sejarah kelahiran paradigma, tentu suatu paradigma mewakili zaman keemasan masing-masing. Paparan komprehensif seperti inilah yang tidak dijumpai dalam bukui ini. Paradigma kritis dan konstruktivis yang dalam pandangan penulis menjadi dewa penyelamat dari kematian ilmu komunikasi, seolah tanpa cacat dan cela, apalagi kelemahan.

Kelemahan Argumentasi

Jika dipetakan secara kasar, argumentasi penulis untuk mendukung tesisnya atas kematian ilmu komunikasi yang ada dalam buku ini dapat dirinci sebagai berikut:

1. Dosa-dosa Positivisme

Kritik dan hujatan terhadap positivisme mendominasi uraian dalam buku ini. Bab I (bagian akhir), Bab II, bab III, dan bab IV dipenuhi dengan analisis atas kemacetan ilmu-ilmu sosial akibat berpijak pada positivisme. Menjadi agak klise ketika positivisme secara membabi buta disalahkan dalam konteks penbicaraan ilmu-ilmu sosial saat ini, karena sejak lama pun pemerhati ilmuwan sosial sudah mengendusnya. Harno Hardt adalah salah satu ilmuwan yang resah atas dominasi tradisi positivisme dalam penelitian ilmu sosial (Hardt, 1979).[4]

Di barat, positivisme mulai surut setelah mencapai zaman keemasannya tahun 1970-an, digantikan oleh pendekatan-pendekatan alternatif yang humanistik, seperti fenomenologi, etnometodologi, interaksionisme simbolik, dramaturgi, hermeneutika, semiotika, historis, teori feminis, Marxisme Sartian, kritis, konstruktivisme, dsb. Di Indonesia, sejak era reformasi membawa kebebasan berpikir dan berkespresi, paradigma positivisme mulai ditinggalkan dan diganti dengan paradigma alternatif kontemporer yang dapat dilihat dari penelitian-penelitian mahasiswa di berbagai jurusan komunikasi di tanah air.[5]

Terlepas dari dosa-dosa positivisme, ancaman serius bagi ilmu sosial, baik ancaman kemandegan ataupun kematian, menurut saya terletak pada tiga hal, pertama; krisis ilmu sosialnya sendiri, kedua; pada krisis ilmuwan sosialnya, ketiga: kemanfaatan emansipatoris ilmu itu bagi masyarakat dalam menjelaskan fenomena kehidupan mereka sehari-hari. Simplifikasinya, ketika ilmu tersebut dan ilmuwan sosialnya memiliki keterbukaan terhadap alternatif paradigma lain dan mensinergikan berbagai paradigma yang baru serta relevan dengan kebutuhan mencerdaskan masyarakat, maka selesailah krisis itu.

2. Stagnasi Metodologi

Tak bisa dimungkiri, jka kita melihat relitas penelitian komunikasi yang berkembang di Indoensia lebih banyak diwarnai dengan campur tangan pendidik, dalam hal ini dosen. Pilihan metode penelitian komunikasi tidak banyak bersumber dari kebutuhan untuk menjawab masalah penelitian, namun lebih banyak ditentukan oleh pengarahan dosen ketika membimbing skripsi, sesuai dengan kadar keilmuan yang dimilikinya, celakanya dosen-dosen yang tergolong konservatif menkankan pentingnya paradigma positivisme digunakan dalam penelitian, sebagaimana yang mereka peroleh sewaktu kuliah zaman lampau.

Andre Hardjana melihat pendidikan komunikasi di Indonesia terjebak dalam proses inbreeding. Para dosen larut iklim akademik yang kaku dan cenderung mengajarkan apa yang sudah dipelajari dalam iklim yang sama. Perkembangan-perkembangan baru, baik dalam teori dan metodologi ilmu komunikasi kurang diperhatikan.[6]

Saya melihat gejala itu sudah jauh berbeda saat ini. Tidak sedikit (Untuk tidak menyebut banyak) pendekatan-pendekatan alternatif-humanistik (terutama fenomenologis dan kritis)  dijadikan metode standar dalam penelitian komunikasi. Sudah jauh berkurang pendekatan kuantitatif murni dengan rumus-rumus statistik yang terkesan kaku .

Sekadar bukti, seorang teman dosen di sebuah PT di Yogyakarta bercerita, ia merasa jenuh membimbing skripsi mahasiswanya yang selama lima tahun terakhir seragam mengunakan pendekatan kritis, terutama semiotika dan wacana kritis. Ia menyebutnya sebagai tren dan zaman keemasan paradigma kritis. Ia pun tidak yakin ke depan tren ini akan terus bertahan.

Gejala di sebuah PT di Lampung justru menunjukkan keunikan, mahasiswa di sana mulai jenuh dengan metode kauntitatif dengan mereka tertarik menggunakan metode-metode baru yang tergolong kritis, buku-buku tenatng analisis wacana, framing, semiotika, pun laris di sana. Walhasil kelompok dosen yang dinamis pun berusaha untuk mengikuti kemauan mahasiswa dan tidak ingin ketinggalan mengikuti perkembangan teraktual motode-metode kritis tersebut lengkap dengan varian-varian barunya .

Satu hal yang patut dicatat adalah keterbukaan ilmu komunikasi terhadap ilmu-ilmu lain. Dalam ilmu komunikasi tidak dikenal, meminjam istilah Immanuel Wallerstein kompatremenisasi (pengotak-kotakan) ilmu sosial. Riset mahasiswa komunikasi tak lagi aneh ketika menggunakan psikoanalisis, analisis arkeologi, atau etnografi. Lagi-lagi kuncinya ada di keterbukaan dosen pembimbingnya.

3. Kesenjangan Teori-Praktik dan Ketertundukan pada Ideologi Pasar

Di Indonesia, gejala kerapuhan ilmu di bawah bayang-bayang ideologi pasar hampir terjadi di semua disiplin ilmu. Dunia kampus sejak lama disinyalir menjadi menara gading yang hanya memberi sentuhan apresiasi akuarium kaca bagi pembelajarnya, tanpa bisa menyentuh langsung kehidupan ikan-ikan di dalamnya.

Ideologi pasar di mata penulis buku ini juga dianggap turut membunuh ilmu komunikasi karena ideologi itulah yang di“imani” mahasiswa ketika belajar ilmu komunikasi. Padahal dengan melihat tren pendidikan ilmu komunikasi yang ada di Indonesia saat ini, kita bisa memetakan orientasinya: apakah praktis, teroitis, atau setengah-setengah (gabungan keduanya). Terlepas dari lembaga pendidikan yang dalam praktiknya tidak konsisten, ada determinasi yang jelas ketika mahasiswa belajar di jurusan komunikasi dengan jenjang DI, DII, DIII, S1 dst.

Saya tidak ingin terjebak pada dikotomi teori dan praktik ke dalam dua kutub, karena dua-duanya bisa saling melengkapi. Soal mana yang mendominasi, tentu menjadi persoalan lain dengan melihat kepentingan dan aktor di baliknya. Prinsipnya, semua berangkat dari pilihan individu pembelajarnya. Meski sejauh ini harus diakui janji-janji pasar tetap menjadi pertimbangan utama yang diikuti kebanyakan mahasiswa.

Realitas terkini menunjukkan, di beberapa kampus, terutama kampus negeri, sudah mulai memperjelas kurikulum pendidikan komunikasi yang ditujukan untuk menjembatani kebutuhan mahasiswa, apakah mereka memilih hendak menjadi praktisi yang “lebih banyak bisa” atau menjadi akademisi yang “lebih banyak tahu”. Sekadar contoh, di Jurusan Komunikasi UGM misalnya, sejak tahun 2002, mahasiswa bisa memilih untuk mendalami konsentrasi media, perspektif media, atau supporting media. Pilihan ini berimplikasi pada bobot teori dan praktik yang diberikan.

4. Kepentingan Tersembunyi

Di bab I buku ini banyak diulas mengenai peran kekuasaan dalam mencemari ilmu pengetahuan. Kepentingan kekuasaan dan ideologi di balik ilmu pengetahuan ini disinyalir penulis berkontribusi menghegomi sampai tataran sublim (ruang-rung ketidaksadaran) manusia (hal. 11).

Dalam konteks keilmuan komunikasi, lagi-lagi penulis berargumentasi dengan sesuatu yang sebenarnya sudah lazim diketahui oleh pembelajar komunikasi yang mendalami studi teks, bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya ditunggangi oleh banyak kepentingan. Judgement inilah yang kiranya belum memberikan kebaruan proposisi sampai pada konklusi kematian ilmu komunikasi.

5. Kemandegan Perkembangan Ilmu Komunikasi

Objek formal dan material ilmu komunikasi terus berkembang karena  kompartemensiasi (pengotak-kotakan ilmu) sudah lama ditinggalkan. Sebenarnya kisah ilmu sosial yang sok ekslusif semacam itu boleh dikatakan sisa-sisa warisan dari apa yang terjadi di Eropa pada paruh kedua abad XIX, yakni gugatan terhadap ilmu–ilmu sosial yang kemudian meniadakan pembedaan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam labelisasi disiplin ilmu-ilmu tertentu.

Awalnya kajian ekonomi-politik, sosiologi politik, sosiologi historis misalnya, ditolak sebagai disiplin ilmu, dengan argumentasi bahwa negara dan pasar beroperasi dengan logikanya sendiri-sendiri yang memang berbeda dan tidak dapat dipertemuikan secara konseptual karena perbedaan frame perspektif. Untunglah, keadaan tersebut hanya bertahan hingga kurun waktu tahun 1945an. Seiring dengan adanya berbagai perubahan perubahan masayarakat secara mondial, ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang tersekat-sekat itu semakin kurang mampu menjelaskan berbagai gejala yang ada. Muncullah kajian-kajian yang bukan sekadar melibatkan berbagai disiplin ilmu/multidisipliner, tetapi juga lintas disiplin/interdisipliner, sebutlah kajian wilayah (area studies), kajian perempuan (women studies), kajian kebudayaan (cultural studies), kajian hak asasi manusia (human rights stuidies) dan sebagainya. Pendeknya, jika  sebelum tahun 1945 terjadi divergensi ilmu-ilmu sosial dan humaniora, kini terjadi konvergensi.

Tentunya munculnya disiplin ilmu-ilmu yang pernah tersekat-sekat secara kaku, namun semakin bersinggungan satu-sama lain dalam bentuk kajian atas subject matter tertentu, tidaklah lepas dari berbagai fenomena yang ada di dalam masyarakat yang terus berubah. Dalam konteks ilmu komunikasi, pendidikan jurnalisme misalnya, yang awalnya menggelorakan pentingnya jurnalisme profesional pada perkembangannya dinilai terlaku kaku dan tidak berpihak pada kepentingan publik yang tertindas sehingga melahirkan konsepsi new journalism, dengan berbagai pendekatan baru, misalnya jurnalisme damai, jurnalisme sensitif gender, jurnlisme publik, dan lain-lain yang menolak klaim objektivitas sebagaim satu-satunya kebenaran.

Munculnya new media juga menyebabkan perlunya ilmu ”baru” komunikasi untuk melihat gejala apa yang sebenarnya terjadi. New media dan cyberspace menjadi objek baru dalam kajian komunikasi yang sekali lagi menjauhkan ilmu komunikasi dari stagnasi.

Beberapa Catatan

Selain beberapa kelemahan argumentasi di atas, terdapat beberapa kekurangan lain dalam buku ini, menyangkut beberapa poin, di antaranya:

1. Taksonomi

Pembahasan tentang sejarah kelahiran komunikasi dan bagaimana perkembangan ilmunya yang sejak awal justru bercampur aduk dengan disiplin ilmu-ilmu lain juga tidak dibahas dalam buku ini. Penulis lebih banyak berputar-putar dengan sejarah positivisme. Seharusnya, penulis menampilkan dialektika bagaimana ilmu komuniaksi sebenarnya lahir dan tumbuh sebagai ilmu yang masih “muda” dan diturunkan dari berbagai disiplin ilmu yang lain, sebutlah psikologi, sosoiologi, filsafat, ekonomi, bahkan matematika. Dan bagaimana para pencetus kelahirannya menggabungkan berbagai pendekatan. Dari perspektif lain, bisa juga dilihat ketidakpercayaan diri ilmu komunikasi yang gersang akan teori karena tidak memliki grand theories, melainkan teori-teori yang parsial dan partikularistik sesuai dengan realitas komunikasi yang sangat rumit.[7]

Penulis lebih banyak mendudukkan ilmu komunikasi pararel dengan ilmu sosial. Singkat kata fokus yang menukik pada pembahasan ranah keilmuan komunikasi boleh dikatakan terlalu sedikit. Pembahasan pada bab IV misalnya, dengan panjang lebar menelaah paradigma ilmu pengetahuan, namun tidak menjelaskan dengan gamblang hubungan paradigma dan kematian ilmu komunikasi.

2. Setting ruang-waktu

Dalam paparan penulis, belum jelas yang dimaksudkan kematian ilmu komunikasi (kalau ilmu komunikasi benar-benar mati) yang ada dimana dan kapan. Sedikit sekali bahasan mengenai lokus keilmuan komunikasi yang berkembang dalam tradisi Eropa maupun Amerika, juga perkembangan kontemporer di Asia atau Australia yang juga sedang booming.

Kalau kita bicara mengenai Indonesia saja, misalnya ada perbedaan yang cukup signifikan bagi ilmu komunikasi pada awal perkembangannya pada masa Orde Baru dan pascareformasi. Konstelasi politik mewarnai dinamika pendidikan komunikasi di tanah air. Di masa kejayaan Orde Baru, sikap kritis sebagai ciri khas intelektual telah hilang. Dosen seolah tidak mampu lagi meluruskan das sein (kenyataan) yang melenceng dari das sollen (keseharusan). Bahkan ada kecenderungan memanipulasi das sollen untuk melegitimasi das sein. Sklaven mentalitat telah mengubah tradisi akademisi kritis menjadi tradisi akademisi developmentalism. Kalangan ilmuwan sosial berhenti berpikir dan berdebat kritis. Mereka mengalami kemandegan dan statisme karena tenggelam dalam derap pembangunan yang gegap gempita.

Idy Subandy Ibrahim melihat riset-riset komunikasi pada zaman Orde Baru  lebih banyak berkutat pada pendekatan “kuno” dengan pendekatan linear. Tak jarang penelitian merupakan pesanan untuk menjustifikasi terhadap pesan-pesan pembangunan (developmentalism) yang menyokong keberlangsngan status quo. [8]

3.   Teknis

Dari aspek teknis kelemahan yang mencolok dari buku ini adalah sama sekali tidak adanya penyebutan sumber dari foto atau gambar yang ditampilkan. Saya mencatat, semua ilustrasi dalam buku ini, yang berjumlah buah 7 tidak disertai penulisan sumber/pemiliknya. Meskipun terkesan sepele, dalam tradisi akademik hal ini mengindikasikan kurangnya apresiasi terhadap sumber atau pemilik gambar/foto, apalagi jika mengambil dari internet. Pnecantuman sumber akan menunjukkan seberapa ingin kita mengapresiasi milik orang lain dan berapa besar kita menghargai pemikiran akademis.[9] Semoga di edisi mendatang, catatan ini menjadi bahan perbaikan.

Sekadar Kesimpulan

“Berputar-putar pada eksplanasi kegagalan positivisme memberi ruh pada ilmu-ilmu sosial”, inilah catatan utama yang menurut pengamatan saya menjadikan buku yang ditulis St Tri Guntur Nurwaya kurang sinkron antara judul dengan isinya. Saya pun merasa tetap perlu bertanya sekali lagi meski telah selesai membaca buku ini sampai tuntas; apakah benar ilmu komunikasi sudah mati? Saya kurang yakin…

Terlepas dari beberapa kekurangnnya, buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun, terutama untuk memperkaya wacana kritis pembacanya. Lebih-lebih sebagaimana harapan penulis dalam pengantar bukunya: menyadarkan kita untuk selalu membangunkan “ilmu pengetahuan” dari mimpi-mimpi absolutnya yang semakin mapan. Semoga.

[1] Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) Yogyakarta.

[2] Lihat Wisnu Martha Adiputra , “Mempertanyakan ‘Matinya’ Ilmu Komunikasi”, Buletin Polysemia, Edisi 3, Juli 2006, hal. 11.
[3] Kris Budiman, Semiotika Visual (Yogyakarta: Penerbit Buku Baik dan YSC, 2003).
[4] Lihat Idi Subandy Ibrahim, “Matinya Ilmu Komunikasi”, Jurnal ISKI, Volume III, April 1999, hal. 4.
[5] Penggunaan pendekatan alternatif-humanis dalam penelitian komunikasi belum merata di semua juusan ilmu Komunikasi di Indonesia, meski demikian tren penelitian komunikasi linear sudah mulai ditinggalkan karena terkesan kuno dan kerap menyuguhkan hipotesis yang jenuh dan repetitif (pernah diteliti sebelumnya).
[6] Lihat Andre Hardjana, “Perkembangan Penelitian Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi: Catatan Pendahuluan”, Jurnal ISKI Volume III, April 1999, hal. 9.
[7] Dance (dalam Tucker, et. Al., 1981: 278), sebagaimana dikutip Mulyana, Op. Cit., hal. 23.
[8] Ibrahim, Op. Cit., hal. 2-3.
[9] Soal tidak adanya pencantuman sumber foto, catatan yang sama juga ditulis oleh Adiputra ketika meresensi buku “Matinya Ilmu Komunikasi”. Lihat Adiputra, Op. Cit., hal. 11.

Tentang Judul Itu… (Menyoal “Matinya” Ilmu Komunikasi)

Iwan Awaluddin Yusuf


Aug 24 2010

Pemanfaatan Teknologi NANO untuk membuat Chitosan sebagai Bahan Pengganti Pupuk Kimia

Pada bulan Nopember 2009 Pusat Diseminasi Iptek Nuklir (PDIN) BATAN telah mengadakan Lokakarya PHLIN ke-10 di Bandung. Diikuti oleh Mitra BATAN dari daerah yang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, dari sekian pembicara tamu yaitu bapak Dr. Ir. S. Gatot Irianto Ka. Balitbang Deptan menerangkan mengenai pemanfaatan pupuk organik yang dikenal dengan NANO, yang dari hasil paparannya tersebut telah memberikan inspirasi dan motivasi pada bapak Oneng Suhara, yang pernah mengikuti pelatihan pemanfaatan hasil litbang BATAN yaitu Teknologi Khitin Chitosan di Indramayu beberapa tahun yang lalu. Dari chitosan ini muncul ide untuk memanfaatkan limbah cairnya dibuat pupuk organik, dan pupuk cair itupun dikembangkan oleh BATAN (PATIR BATAN Pasar Jum’at) menjadi oligo chitosan untuk merangsang akar, sehingga tanaman sayur menjadi lebih baik dibanding dengan menggunakan pupuk lainnya, serta dapat menyelamatkan tanah yang sudah rusak.

Saat ini tingkat kesuburan tanah baik itu sawah ataupun daratan sudah mulai berkurang, sehingga perlu adanya reklamasi tanah secara baik. Reklamasi tanah tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Kerusakan tanah tersebut akibat beberapa faktor diantaranya dengan kurangnya pohon pelindung, pemakaian pupuk kimia yang berlebihan, kurangnya kesadaran masyarakat menggunakan pupuk hijauan (alam). Berbagai macam pupuk organik sekarang sudah banyak diproduksi, mutu serta kwalitasnya pun beraneka macam. Bapak Oneng Suhara dari KSU Citra Mandiri Bersama Bandung sering mendengar keluhan para petani mengenai kondisi tanamannya yang produksinya selalu menurun, maka timbul gagasan untuk membuat pupuk organik yang berasal dari hasil litbang BATAN yaitu chitosan.

Dengan menggunakan teknologi NANO alam, pak Oneng mencoba membuat Chitosan menjadi NANO, dan hasilnya cukup baik. Pada hari Kamis tanggal 7 Januari 2010 bapak Oneng Suhara berkunjung ke PTNBR BATAN Bandung menemui nara sumber yang kiranya dapat diajak diskusi. Pak Oneng dapat bertemu dan berdiskusi ringan dengan ibu Dra. Nanny Kartini Oekar, M.Sc. membahas mengenai NANO yang telah dibuatnya. Dan di PTNBR pun telah memanfaatkan teknologi NANO untuk obat-obatan, maka kedua insan yang berbeda latar belakang pengetahuannya dapat saling melengkapi satu sama lain mengenai NANO tersebut. Bahkan pak oneng menunjukkan hasil uji cobanya bahwa chitosan dapat dibentuk NANO CHITOSAN yang warnanya jernih dan dapat dijadikan sebagai pengganti bahan pengawet makanan dari bahan kimia, NANO tersebut diserahkan kepada ibu Nanny untuk diteliti lebih lanjut.

NANO adalah salah satu nama dari ukuran/demensi berbagai unsur baik padat maupun cairan. NANO adalah besaran unsur yang sangat halus, bila 1 cm=10 mm, maka 1 mm=1 juta NANO atau satu NANO= 1 per sejuta mm. Karena ukuran sangat halus sehingga, sangat sulit untuk di lihat oleh mata telanjang. Untuk itu diperlukan “Teknologi Khusus” yang pada saat ini disebut “Teknologi NANO”.Pupuk adalah makanan bagi seluruh jenis tanaman, tanaman mengambil makanan dengan cara menghisap melalui “pori pori” yang ada pada akar maupun pada seluruh bagian tanaman yang berada di atas tanah.

Makin halus ukuran/dimensi makanan/pupuk makin lebih mudah atau makin cepat di serap dan dicerna oleh tanaman. Karena lebih mudah dan lebih cepat diserap dan dicerna maka menjadi lebih efektif dalam pemberian dan pemakaian pupuk organik cair “NANO” untuk itu jumlah pemakaian akan dapat dihemat dengan tanpa mengganggu hasil produksi panen. Dari percobaan penanaman berbagai jenis tanaman dapat diperoleh kenaikan hasil antara lain:
Tanaman pangan/padi memperoleh kenaikan antara 40-45% dengan cara konvensional.
Tanaman palawija/sayuran naik 30-40%,
Tanaman kopi, kakao, teh naik 35-42%,
Tanaman karet getahnya naik 25-30%,
Sawit memperoleh kenaikan buah 30-35%.

Pada saat ini uji coba masih berlangsung diberbagai tempat baik di Pulau Jawa, Pulau Sumatra, dan pulau lainnya.

Badan Tenaga Nuklir Nasional


Aug 24 2010

UMM dinilai PTS paling unggul di Jatim

Diantara 287 PTS di Jatim, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara instritusional dinyatakan sebagai PTS paling UNGGUL di lingkungan Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. Penilaian ini dilakukan oleh Kopertis (koordinator Perguruan Tinggi Swasta ) Jawa Timur dan diumumkan pada 27 Pebruari 2008 lalu. Penilaian meliputi semua aspek mulai dari kelengkapan dan modernitas sarana prasarana akademik, staf pengajar, dinamika aktivitas mahasiswa, kualitas lulusan dan sebagainya. Dengan anugerah universitas paling unggul ini oleh Kopertis ini , UMM telah mendapatkan pengharagaan publik yaitu : masuk 50 Besar Perguruan tinggi terkemuka di Indonesia oleh Depdiknas RI tahun 2007; masuk urutan 13 besar PT yang memiliki link dan kerjasama luar negeri serta keberadaan mahasiswa asing (luar negeri) dari 18 PTN /PTS se Indonesia dan urutan 17 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia versi Majalah Glabal Asia awal tahun 2008 ini. selain penghargaan publik ini, UMM dinyatakan sebagai PTS yang terproduktif se Indonesia untuk produk-produk penelitiannya dan penghargaan untuk pretasi akademik mahasiswanya.

Pestasi yang diraih UMM baik oleh dosen maupun mahasiswanya membuktikan bahwa UMM sebagai PTS besar dan modern, memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki PTS lain di Jawa Timur/ Indonesia. kondisi ini memantapkan UMM untuk lebih meningkatkan segala aspek, agar semakin eksis untuk tahun-tahun mendatang. Eksistensi UMM dibuktikan juga dengan jumlah mahasiswa yang terus meningkat setiap tahun ajaran baru. Jika PTS lain di Malang (khususnya) mengalamai penurunan yang tajam dalam perolehan mahasiswa baru, justru 4 tahun terakhir (sejak PTN-PTN menambah jumlah kuota penerimaan camaba dengan banyak jalur) ; UMM mengalami kenaikan jumlah pendaftar. tahun 2007 lalu telah diterima sejumnlah 4556 camaba, tahun 2008 ini akan menerima 4450 maba.

www.ippmassi.co.cc