Pemanfaatan Teknologi NANO untuk membuat Chitosan sebagai Bahan Pengganti Pupuk Kimia

Pada bulan Nopember 2009 Pusat Diseminasi Iptek Nuklir (PDIN) BATAN telah mengadakan Lokakarya PHLIN ke-10 di Bandung. Diikuti oleh Mitra BATAN dari daerah yang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, dari sekian pembicara tamu yaitu bapak Dr. Ir. S. Gatot Irianto Ka. Balitbang Deptan menerangkan mengenai pemanfaatan pupuk organik yang dikenal dengan NANO, yang dari hasil paparannya tersebut telah memberikan inspirasi dan motivasi pada bapak Oneng Suhara, yang pernah mengikuti pelatihan pemanfaatan hasil litbang BATAN yaitu Teknologi Khitin Chitosan di Indramayu beberapa tahun yang lalu. Dari chitosan ini muncul ide untuk memanfaatkan limbah cairnya dibuat pupuk organik, dan pupuk cair itupun dikembangkan oleh BATAN (PATIR BATAN Pasar Jum’at) menjadi oligo chitosan untuk merangsang akar, sehingga tanaman sayur menjadi lebih baik dibanding dengan menggunakan pupuk lainnya, serta dapat menyelamatkan tanah yang sudah rusak.

Saat ini tingkat kesuburan tanah baik itu sawah ataupun daratan sudah mulai berkurang, sehingga perlu adanya reklamasi tanah secara baik. Reklamasi tanah tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Kerusakan tanah tersebut akibat beberapa faktor diantaranya dengan kurangnya pohon pelindung, pemakaian pupuk kimia yang berlebihan, kurangnya kesadaran masyarakat menggunakan pupuk hijauan (alam). Berbagai macam pupuk organik sekarang sudah banyak diproduksi, mutu serta kwalitasnya pun beraneka macam. Bapak Oneng Suhara dari KSU Citra Mandiri Bersama Bandung sering mendengar keluhan para petani mengenai kondisi tanamannya yang produksinya selalu menurun, maka timbul gagasan untuk membuat pupuk organik yang berasal dari hasil litbang BATAN yaitu chitosan.

Dengan menggunakan teknologi NANO alam, pak Oneng mencoba membuat Chitosan menjadi NANO, dan hasilnya cukup baik. Pada hari Kamis tanggal 7 Januari 2010 bapak Oneng Suhara berkunjung ke PTNBR BATAN Bandung menemui nara sumber yang kiranya dapat diajak diskusi. Pak Oneng dapat bertemu dan berdiskusi ringan dengan ibu Dra. Nanny Kartini Oekar, M.Sc. membahas mengenai NANO yang telah dibuatnya. Dan di PTNBR pun telah memanfaatkan teknologi NANO untuk obat-obatan, maka kedua insan yang berbeda latar belakang pengetahuannya dapat saling melengkapi satu sama lain mengenai NANO tersebut. Bahkan pak oneng menunjukkan hasil uji cobanya bahwa chitosan dapat dibentuk NANO CHITOSAN yang warnanya jernih dan dapat dijadikan sebagai pengganti bahan pengawet makanan dari bahan kimia, NANO tersebut diserahkan kepada ibu Nanny untuk diteliti lebih lanjut.

NANO adalah salah satu nama dari ukuran/demensi berbagai unsur baik padat maupun cairan. NANO adalah besaran unsur yang sangat halus, bila 1 cm=10 mm, maka 1 mm=1 juta NANO atau satu NANO= 1 per sejuta mm. Karena ukuran sangat halus sehingga, sangat sulit untuk di lihat oleh mata telanjang. Untuk itu diperlukan “Teknologi Khusus” yang pada saat ini disebut “Teknologi NANO”.Pupuk adalah makanan bagi seluruh jenis tanaman, tanaman mengambil makanan dengan cara menghisap melalui “pori pori” yang ada pada akar maupun pada seluruh bagian tanaman yang berada di atas tanah.

Makin halus ukuran/dimensi makanan/pupuk makin lebih mudah atau makin cepat di serap dan dicerna oleh tanaman. Karena lebih mudah dan lebih cepat diserap dan dicerna maka menjadi lebih efektif dalam pemberian dan pemakaian pupuk organik cair “NANO” untuk itu jumlah pemakaian akan dapat dihemat dengan tanpa mengganggu hasil produksi panen. Dari percobaan penanaman berbagai jenis tanaman dapat diperoleh kenaikan hasil antara lain:
Tanaman pangan/padi memperoleh kenaikan antara 40-45% dengan cara konvensional.
Tanaman palawija/sayuran naik 30-40%,
Tanaman kopi, kakao, teh naik 35-42%,
Tanaman karet getahnya naik 25-30%,
Sawit memperoleh kenaikan buah 30-35%.

Pada saat ini uji coba masih berlangsung diberbagai tempat baik di Pulau Jawa, Pulau Sumatra, dan pulau lainnya.

Badan Tenaga Nuklir Nasional


Leave a Reply